MUARASABAK – Musim kemarau mulai menekan warga Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Di Kelurahan Parit Culum Satu, Kecamatan Muara Sabak Barat, debit air sumur terus menyusut hingga warga terpaksa mencari cara agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi.
Mahruf, salah seorang warga, mengatakan dirinya harus memperdalam sumur setelah ketersediaan air terus menurun dalam beberapa pekan terakhir. Upaya itu dilakukan agar air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan memasak, tetap tersedia.
BACA JUGA:Jambi Siaga Karhutla, Pesawat Cessna Disiapkan untuk Patroli dan Modifikasi Cuaca
Menurutnya, memperdalam sumur menjadi pilihan sementara yang bisa dilakukan warga di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Kondisi tersebut mulai dirasakan sejumlah warga lainnya. Jika kemarau berlangsung lebih panjang, masyarakat khawatir sumur-sumur warga semakin kering dan kebutuhan air bersih semakin sulit dipenuhi.
"Surutnya air sumur membuat masyarakat khawatir apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Warga berharap hujan segera turun sehingga ketersediaan air bersih kembali normal," ungkapnya.
Warga berharap pemerintah menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi kekeringan semakin meluas. Bantuan pasokan air bersih dinilai perlu disiapkan, terutama untuk wilayah yang mulai mengalami penurunan debit air sumur.
Karhutla Mengintai
Kemarau tak hanya memicu persoalan air bersih. Cuaca panas dan kering juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tanjabtim.
Kondisi lahan yang semakin kering, termasuk berkurangnya kandungan air pada lahan gambut, membuat potensi munculnya titik api perlu diwaspadai. Pencegahan pun tidak bisa hanya mengandalkan kesiapan aparat.
Kapolres Tanjabtim AKBP Ade Candra mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas.
Ia meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca semakin panas dan kering.
"Kami terus mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kesadaran masyarakat menjadi benteng pertama dalam mencegah karhutla. Mari bersama-sama menjaga Kabupaten Tanjabtim agar tetap aman, sehat, dan bebas dari bencana asap," tegas Ade Candra.
BACA JUGA:Karhutla Kembali Terjadi di Tanjabtim, 4,5 Hektare Lahan Gambut Terbakar dalam Hitungan Jam
Menurutnya, TNI, Polri, dan Pemerintah Kabupaten Tanjabtim terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi dampak kemarau.
Masyarakat juga diminta tidak menunggu api membesar. Setiap titik api maupun aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran harus segera dilaporkan kepada petugas.
"Dengan kondisi cuaca yang semakin panas dan kering, kewaspadaan terhadap ancaman karhutla perlu terus ditingkatkan. Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan dan menghindari bencana asap di wilayah Tanjabtim," tukasnya. (*)