Hujan Guyur Jambi, Kabut Asap Mulai Berkurang
JAMBI-Hujan yang turun di sejumlah wilayah Jambi sejak Senin dini hari membawa sedikit kelegaan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Read more
MUARO JAMBI — Ancaman karhutla di Muaro Jambi kini bukan lagi sekadar persoalan jarak pandang. Kualitas udara yang memburuk mulai menjadi ancaman langsung bagi kesehatan masyarakat.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan angka 190 di wilayah Muaro Jambi. Level tersebut masuk kategori tidak sehat, sehingga paparan udara luar ruangan perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok masyarakat yang rentan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Muaro Jambi mengingatkan warga agar tidak menganggap sepele kondisi tersebut. Asap dan partikulat halus dari kebakaran hutan dan lahan dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan.
BACA JUGA:Langit Jambi Membandel, Hujan Buatan Mandek: Karhutla Tembus 300 Hektare
Kepala Dinkes Muaro Jambi, Aang Hambali, mengatakan memburuknya kualitas udara berpotensi meningkatkan keluhan seperti iritasi saluran pernapasan dan batuk.
“Kondisi seperti ini dapat meningkatkan rasa iritasi pada saluran pernapasan, batuk, atau gangguan kesehatan lainnya, terutama bagi kelompok rentan,” kata Aang, Senin (10/8) siang.
Menurut Aang, anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki penyakit jantung dan gangguan paru-paru merupakan kelompok yang harus mendapat perhatian lebih. Paparan udara tercemar dalam kondisi seperti ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada mereka.
Karena itu, Dinkes meminta kelompok rentan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada level tidak sehat.
“Batasi kegiatan di luar ruangan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit jantung atau paru-paru. Kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya hindari aktivitas di luar rumah,” tegasnya.
Bagi warga yang tetap harus keluar rumah, perlindungan diri juga menjadi hal penting. Dinkes menyarankan penggunaan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikulat halus, bukan sekadar menutup wajah.
BACA JUGA:Kemarau Mulai Cekik Warga Tanjabtim, Sumur Mengering dan Karhutla Mengintai
“Jika terpaksa keluar rumah, pakailah masker pelindung seperti N95 atau KF94. Ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikulat halus ke saluran pernapasan,” tandas Aang.
Dengan ISPU yang telah mencapai 190, masyarakat diminta lebih disiplin membatasi paparan asap. Kondisi udara yang terlihat biasa saja tidak berarti bebas dari partikel pencemar yang dapat terhirup setiap kali bernapas. (*)
JAMBI-Hujan yang turun di sejumlah wilayah Jambi sejak Senin dini hari membawa sedikit kelegaan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Read moreJAKARTA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia masih berada pada level tinggi. Kementerian Kesehatan mencatat 15,6 juta kas
Read moreMUARO JAMBI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, kembali memunculk
Read moreSUNGAI PENUH – Ketua Komisi II DPRD Kota Sungai Penuh, Fahrudin, menyatakan mundur dari jabatannya. Keputusan tersebut disampaikan dalam rapat p
Read moreJAMBI – Upaya memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi kini berpacu dengan cuaca. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang
Read moreJAMBI – Proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Jambi–Rengat Fase I kini berpacu dengan waktu. Pemerintah Provinsi Jambi memasang seju
Read more