MERDEKA: Melawan Penjajah Dari Bangsa Sendiri

Bahren Nurdin
Bahren Nurdin

Oleh: Bahren Nurdin

SETIAP 17 Agustus, kita kembali mengibarkan Merah Putih. Jalan-jalan dipenuhi umbul-umbul, perlombaan digelar, dan lagu-lagu kebangsaan berkumandang. Tahun ini, Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-81. Namun, di tengah gegap gempita itu, sebuah pertanyaan patut diajukan: benarkah kita telah sepenuhnya merdeka? Secara politik, Indonesia memang telah lama terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Tidak ada lagi tentara asing yang menguasai negeri ini. Tidak ada lagi bendera penjajah yang berkibar di atas tanah air. Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang bebas dari kekuasaan bangsa asing.

Penjajahan dapat berubah wajah. Ia tidak selalu datang dengan senjata, seragam militer, dan kapal perang. Hari ini, penjajahan bisa hadir dari dalam rumah kita sendiri. Bahkan pemimpin negeri ini sendiri! Korupsi, misalnya, adalah salah satu bentuk penjajahan modern yang paling nyata. Dilakukan oleh elit bangsa. Ketika uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan justru dirampas oleh segelintir orang, sesungguhnya sedang terjadi perampasan hak rakyat. Koruptor mungkin tidak membawa senapan seperti tentara kolonial, tetapi akibat perbuatannya bisa menghancurkan masa depan bangsa.

Tindakan para maling ini sesungguhnya lebih sadis dan tidak berperi kemanusiaan. Demikian pula narkoba. Ia adalah bentuk penjajahan yang menyerang bukan wilayah, melainkan manusia. Jika penjajah masa lalu berusaha menguasai tanah dan sumber daya bangsa Indonesia, narkoba sedang berusaha menguasai kesadaran, merusak generasi, menghancurkan keluarga, dan memutus masa depan bangsa. Yang lebih menyedihkan, peredaran narkoba tidak mungkin berkembang tanpa keterlibatan penguasa negeri ini. Mereka yang dipercaya untuk memberantas malah menjadi cukong.

Dalam konteks lokal Jambi, refleksi kemerdekaan harus membawa kita pada keberanian untuk melihat persoalan di sekitar kita. Jambi adalah daerah yang kaya sumber daya alam, memiliki sejarah, budaya, dan masyarakat yang luar biasa. Tetapi kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Kita masih menyaksikan persoalan kemiskinan, kesenjangan, kerusakan lingkungan, konflik sumber daya, penyalahgunaan kekuasaan, hingga ancaman narkoba yang terus membayangi generasi muda.

Di sinilah makna kemerdekaan harus diuji. Apa arti merdeka jika rakyat masih kesulitan mendapatkan keadilan? Apa arti kemerdekaan jika kekayaan daerah hanya dinikmati oleh segelintir orang? Apa arti Merah Putih berkibar setiap Agustus jika pada saat yang sama ada anak-anak muda yang masa depannya dirampas oleh narkoba, dan uang rakyat justru dikorupsi oleh mereka yang seharusnya menjadi pelayan publik? Saya bahkan berpandangan, siapa pun yang dengan sadar merampas hak rakyat, merusak generasi melalui narkoba, atau menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, patut disebut sebagai pengkhianat terhadap cita-cita kemerdekaan.

Mereka mungkin bukan penjajah asing, tetapi dampak yang ditimbulkan dapat menjadi bentuk penjajahan baru dari sesama anak bangsa. Karena itu, dalam konteks moral kebangsaan, pengkhianatan dari dalam sering kali terasa lebih menyakitkan daripada serangan dari luar. Kemerdekaan ke-81 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara kita merayakannya. Jangan hanya merdeka secara seremonial, tetapi juga berjuang untuk merdeka dari korupsi, narkoba, ketidakadilan, keserakahan, dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.

Melawan penjajah dari bangsa sendiri, bahkan pemimpin sendiri! Kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai status sejarah. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan sebagai tanggung jawab moral. Dan perjuangan terbesar kita hari ini adalah melawan “penjajah” yang lahir, tumbuh, dan hidup di tengah bangsa kita sendiri. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka bukan hanya ketika penjajah pergi, tetapi ketika rakyat benar-benar terbebas dari segala bentuk penindasan. Merdeka!! (Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik)




Berita Terkait

Goresan Hati Seorang Cucu Veteran Kemerdekaan

Oleh : Prof. Drs. Adrefiza, MA, PhD UNTUK Kakekku, Muhammad Amin, seorang veteran kemerdekaan yang mungkin tak pernah tercatat besar dalam buku sejar

Read more

Stabilitas Moneter: Awal Transformasi Ekonomi Daerah Jambi

Oleh: Dr. Arniwita Ketika dunia kembali diguncang konflik geopolitik, hampir semua negara merasakan dampaknya. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah me

Read more

Hari Anak Nasional 2026: Menyiapkan Generasi Emas di Tengah Revolusi Artificial Intelligence

Oleh: Dr. Kasiono, M.Pd. "Anak-anak tidak mewarisi masa depan dari kita. Mereka akan hidup di masa depan yang kita bangun melalui keputusan-keputusan

Read more

Koperasi Merah Putih: Proyek Strategis atau Ilusi Statistik Ekonomi Kerakyatan?

Oleh : Prof. Ali Idrus SETIAP 12 Juli kita merayakan Hari Koperasi Nasional dengan pidato yang nyaris seragam sejak zaman Orde Baru: koperasi sebagai

Read more

POLEMIK LCC 4 PILAR MPR RI: Inilah Praktik Kekerasan Simbolik

Oleh: Bahren Nurdin Sedang viral. Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menuai perhatian luas setelah

Read more