Goresan Hati Seorang Cucu Veteran Kemerdekaan

Illustrasi

Oleh : Prof. Drs. Adrefiza, MA, PhD

UNTUK Kakekku, Muhammad Amin, seorang veteran kemerdekaan yang mungkin tak pernah tercatat besar dalam buku sejarah, tetapi terukir abadi di hatiku

Setiap kali bulan Agustus tiba dan Sang Saka Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri, ingatanku selalu pulang kepadamu, Kek.

Kepada seorang lelaki sederhana yang pernah menggadaikan masa mudanya demi sebuah kata yang begitu agung: kemerdekaan.

Bagi kebanyakan orang, Agustus mungkin identik dengan upacara, perlombaan, dan berbagai perayaan kemerdekaan. Namun bagiku, Agustus selalu menghadirkan wajahmu.

Wajah yang dipenuhi guratan perjuangan. Tubuh yang renta oleh usia, perjuangan, dan kerasnya kehidupan. Namun dari matamu, aku selalu melihat sesuatu yang tidak pernah padam: cinta kepada negeri ini.

Hari-hari bersejarah yang kita rayakan hari ini adalah buah dari perjuangan dan pengorbananmu bersama ribuan veteran lainnya. Kalian mempertaruhkan darah, air mata, bahkan nyawa agar anak cucu kelak dapat hidup sebagai manusia merdeka.

Kemerdekaan yang kalian perjuangkan bukan untuk segelintir orang. Kemerdekaan itu untuk seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke.

Aku masih mengingat beberapa pesanmu yang dahulu sering kau bisikkan kepadaku.

“Nak, jangan sia-siakan perjuangan kami. Lanjutkan perjuangan kami, meskipun bukan lagi dengan senjata dan bambu runcing. Negeri ini membutuhkan pemuda-pemudi yang setia, pintar, dan pemberani. Cintailah negeri ini dengan membekali diri dengan ilmu, iman, dan kejujuran. Kejarlah ilmu setinggi-tingginya hingga jauh ke Negeri China. Jangan pernah mundur demi kebenaran. Lawan setiap kebatilan dan kezaliman. Jangan diam. Dahulukan kepentingan bangsa di atas kepentinganmu sendiri. Apa pun yang terjadi, jangan pernah mengkhianati tanah airmu.”

Petuah itu terus bergema dalam hidupku.

Ia menjadi kompas ketika aku kehilangan arah dan menjadi api ketika semangat mulai redup.

Kini engkau telah lama berpulang. Yang tersisa hanyalah kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Aku masih ingat bagaimana engkau menjalani hari-hari tua dalam kesederhanaan yang nyaris tak terlukiskan. Penyakit perlahan menggerogoti tubuhmu, sementara biaya pengobatan menjadi sesuatu yang sulit dijangkau. Saat itu, belum ada jaminan kesehatan seperti sekarang.

Aku juga masih mengingat tunjangan veteran yang engkau terima setiap bulan. Hanya sekitar Rp10.500, yang saat itu dikirim melalui wesel di kantor pos.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Nilai tersebut bahkan mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari.

Namun, tidak sekali pun aku mendengar engkau mengeluh.

“Apa yang diberikan negara harus disyukuri.”

Begitulah engkau, Kek.

Tidak pernah menuntut balas atas darah dan pengorbanan yang pernah kau berikan untuk republik ini. Engkau menerima semuanya dengan hati lapang, meskipun pada akhirnya harus mengakhiri hidup dalam kesederhanaan, bahkan kemiskinan.

Sakitmu menahun dan tak terobati sebagaimana mestinya.

Barangkali, jika saat itu sudah ada sistem jaminan kesehatan seperti sekarang, kisahmu akan berbeda. Tetapi sejarah tidak mengenal kata seandainya.

Yang tersisa hanyalah doa dan kerinduan.

Sepeda Ontel yang Menjadi Saksi Perjuangan

Aku juga rindu pada sepeda ontel tua milikmu.

Sepeda itulah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupmu.

Dengan sepeda itu, engkau mengayuh hampir lima kilometer dari kampung kita, Saningbakar, menuju Singkarak, setiap awal bulan hanya untuk mengambil tunjangan veteran.

Sepeda yang sama menemanimu ke sawah dan ke bukit. Menembus panas dan hujan demi mencari nafkah yang halal bagi anak-anak dan cucu-cucumu.

Bagi orang lain, sepeda tua itu mungkin tidak memiliki nilai berarti.

Namun bagiku, sepeda itu adalah kendaraan perjuangan.

Ia jauh lebih mulia daripada kendaraan mewah yang dibeli dari uang hasil mengkhianati bangsa dan rakyat.

Dari Pesan Seorang Veteran hingga Menjadi Guru Besar

Kek, hari ini aku ingin menyampaikan sebuah kabar yang mungkin akan membuatmu tersenyum dan bangga.

Dengan segala keterbatasan yang pernah kita alami, dibarengi kegigihan dan perjuangan keras serta pesanmu dahulu kepadaku, Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.

Aku kemudian melanjutkan studi hingga ke luar negeri, meraih gelar master dan doktor di Australia, dan akhirnya dipercaya menjadi seorang Guru Besar di sebuah perguruan tinggi negeri di Sumatra, tepatnya di Jambi.

Pencapaian itu tidak lepas dari harapan, pesan, dan doamu.

Kini, dengan linangan air mata, aku menuliskan perasaanku. Aku ingin memeluk kembali tubuhmu yang dulu kurus dan lemah.

Aku ingin mempersembahkan semua pencapaianku untukmu, Kek.

Semua itu mungkin bukan semata-mata karena kepandaianku.

Aku hanya sedang meneruskan perjuanganmu dalam medan yang berbeda.

Jika dahulu engkau mempertahankan kemerdekaan dengan senjata, kini aku berusaha mempertahankan masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Engkau mewariskan keberanian. Aku mencoba mewariskannya kepada mahasiswa-mahasiswaku.

Semangat kebangsaan selalu kutanamkan kepada mahasiswa setiap kali aku mengajar.

Engkau dahulu menjaga batas-batas negeri ini. Aku berusaha menjaga akal dan karakter generasi penerusnya.

Terima kasih, Kek.

Perjuangan Itu Belum Selesai

Nilai-nilai perjuangan yang engkau tanamkan telah menjadi denyut dalam setiap langkah hidupku.

Namun, izinkan aku berkata jujur kepadamu.

Perjuanganmu ternyata belum benar-benar selesai.

Negeri ini memang telah merdeka, tetapi masih menyimpan banyak luka.

Kemiskinan belum sepenuhnya sirna. Pembangunan belum sepenuhnya merata. Masih banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan.

Lebih menyedihkan lagi, pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan justru terkadang datang dari sebagian mereka yang diberi amanah untuk mengelola negeri ini.

Jika dahulu engkau melawan penjajah yang datang dari luar, kini bangsa ini harus menghadapi berbagai bentuk ancaman yang lahir dari dalam dirinya sendiri.

Korupsi tumbuh seperti gulma yang sulit dicabut.

Amanah diperjualbelikan.

Jabatan dijadikan alat memperkaya diri.

Uang rakyat dirampas tanpa rasa malu.

Sementara itu, rakyat kecil terus berjuang mempertahankan hidupnya.

Sering kali aku membayangkan, bagaimana jika Tuhan mengizinkanmu kembali ke bumi hanya untuk satu hari.

Aku ingin menggandeng tanganmu mengunjungi gedung-gedung megah tempat sebagian orang memperdagangkan amanah bangsa.

Aku ingin melihat tatapan matamu ketika menyaksikan orang-orang yang hidup mewah dari hasil mengkhianati perjuanganmu.

Aku yakin engkau tidak akan marah karena kebencian.

Engkau akan marah karena cinta kepada Indonesia.

Sebab tidak ada luka yang lebih dalam bagi seorang pejuang selain melihat negeri yang dahulu dibebaskannya perlahan dirusak oleh anak bangsanya sendiri.

Indonesia Masih Memiliki Harapan

Namun, Kek, di tengah segala kegelisahan itu, aku masih menyimpan harapan.

Masih banyak orang baik di negeri ini.

Masih banyak guru yang mengajar dengan tulus.

Masih banyak petani yang bekerja dengan jujur.

Masih banyak tenaga kesehatan yang mengabdi tanpa pamrih.

Masih banyak aparat yang menjaga amanah.

Masih banyak anak muda yang mencintai negeri ini lebih daripada kepentingan dirinya sendiri.

Merekalah alasan mengapa Indonesia masih berdiri.

Merekalah cahaya yang membuat kami percaya bahwa cita-cita kemerdekaan belum benar-benar padam.

Kek, doakan kami.

Doakan agar kami tetap memiliki keberanian untuk mengatakan yang benar ketika kebohongan menjadi kebiasaan.

Doakan agar kami tetap mampu menjaga kejujuran ketika godaan datang dari segala arah.

Doakan agar kami tidak pernah menjadi bagian dari mereka yang mengkhianati darah para pejuang yang telah mempertaruhkan hidup demi tanah air ini.

Semoga engkau, para veteran, para pejuang, dan seluruh pahlawan bangsa beristirahat dengan tenang di sisi Allah SWT dan memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan semoga kami, anak cucumu, diberi kekuatan untuk menjaga Indonesia sebagaimana dahulu engkau menjaganya.

Karena sesungguhnya, kemerdekaan bukan hanya diwariskan. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan.

Bukan lagi dengan bambu runcing dan senapan.

Melainkan dengan kejujuran, ilmu pengetahuan, integritas, dan keberanian melawan setiap bentuk pengkhianatan terhadap negeri.

Selamat Hari Kemerdekaan, Kek.

Perjuanganmu tidak pernah sia-sia.

Ia hidup dalam setiap anak bangsa yang masih mencintai Indonesia. (Cucumu yang selalu merindukanmu, Prof. Drs. Adrefiza, MA, PhD)




Berita Terkait

Goresan Hati Seorang Cucu Veteran Kemerdekaan

Oleh : Prof. Drs. Adrefiza, MA, PhD UNTUK Kakekku, Muhammad Amin, seorang veteran kemerdekaan yang mungkin tak pernah tercatat besar dalam buku sejar

Read more

Stabilitas Moneter: Awal Transformasi Ekonomi Daerah Jambi

Oleh: Dr. Arniwita Ketika dunia kembali diguncang konflik geopolitik, hampir semua negara merasakan dampaknya. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah me

Read more

Hari Anak Nasional 2026: Menyiapkan Generasi Emas di Tengah Revolusi Artificial Intelligence

Oleh: Dr. Kasiono, M.Pd. "Anak-anak tidak mewarisi masa depan dari kita. Mereka akan hidup di masa depan yang kita bangun melalui keputusan-keputusan

Read more

Koperasi Merah Putih: Proyek Strategis atau Ilusi Statistik Ekonomi Kerakyatan?

Oleh : Prof. Ali Idrus SETIAP 12 Juli kita merayakan Hari Koperasi Nasional dengan pidato yang nyaris seragam sejak zaman Orde Baru: koperasi sebagai

Read more

POLEMIK LCC 4 PILAR MPR RI: Inilah Praktik Kekerasan Simbolik

Oleh: Bahren Nurdin Sedang viral. Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menuai perhatian luas setelah

Read more