Obesitas Tak Cukup Diatasi dengan Mengurangi Nasi, Ini Saran Dokter
JAKARTA – Mengurangi nasi atau melewatkan makan malam kerap dianggap sebagai jalan cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, pendekatan tersebu
Read more
JAKARTA – Mengurangi nasi atau melewatkan makan malam kerap dianggap sebagai jalan cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, pendekatan tersebut dinilai terlalu sederhana untuk menangani obesitas.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK mengatakan obesitas memiliki penyebab yang berbeda pada setiap orang. Karena itu, penanganannya tidak bisa diseragamkan hanya dengan membatasi satu jenis makanan.
“Obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan, ‘oh kurangin deh nasinya, jangan makan malam, makan sekali sehari, jangan makan nasi’. Itu enggak bisa,” kata Erwin dalam peluncuran Kampanye Edukasi Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta.
BACA JUGA:Jangan Jadikan Media Sosial Tempat Meluapkan Marah, Psikolog Ungkap Dampak Negatifnya
Menurut Erwin, persoalan bukan hanya terletak pada seberapa banyak seseorang makan saat waktu makan utama. Ada orang yang terbiasa mengonsumsi makanan dalam porsi besar, tetapi ada pula yang justru makan sedikit saat makan utama dan lebih sering mengonsumsi camilan.
“Ada orang yang makannya enggak banyak. Ada yang makannya cuma dua kali sehari, satu kali sehari, tapi nyomotnya banyak. Ada orang yang makannya ‘Portugal’, porsinya gede,” ujarnya.
Karena pola tersebut berbeda, penanganan obesitas perlu melihat kebiasaan makan, gaya hidup, sekaligus faktor yang mendorong seseorang mengonsumsi makanan.
Erwin menilai hubungan seseorang dengan makanan tidak selalu berkaitan dengan rasa lapar. Pengalaman sejak kecil hingga kondisi psikologis dapat memengaruhi kebiasaan makan ketika dewasa.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan menjadikan makanan manis sebagai bentuk hiburan sejak masa kanak-kanak. Kebiasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa dan muncul kembali ketika seseorang menghadapi tekanan atau stres.
Ketika pekerjaan menumpuk atau tenggat waktu semakin dekat, misalnya, makanan manis dapat menjadi pelarian karena mengingatkan seseorang pada pengalaman yang menyenangkan.
“Begitu Anda stres, ‘ih deadline nanti siang nih’, nah supaya mengimbangi stres itu, Anda makan sesuatu yang manis. Karena itu membawa memori yang menyenangkan,” jelasnya.
Kondisi semacam itu membuat obesitas tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan kurang disiplin mengatur makanan. Ada kebiasaan dan faktor pemicu yang perlu dikenali sebelum menentukan strategi perubahan.
Erwin mendorong perubahan gaya hidup dilakukan secara konsisten, bukan melalui pola diet ekstrem yang hanya bertahan dalam waktu singkat.
Menurutnya, masyarakat perlu melihat kembali rutinitas sehari-hari, termasuk bagaimana waktu luang dihabiskan. Aktivitas rekreasi yang minim gerak perlu mulai digantikan dengan kegiatan fisik.
Pengenalan olahraga dan aktivitas di alam juga dinilai penting dilakukan sejak anak-anak agar aktivitas fisik menjadi bagian dari kebiasaan, bukan sekadar program ketika berat badan sudah meningkat.
BACA JUGA:Anak Korban Kekerasan Bukan Tak Mau Bicara, Mereka Butuh Rasa Aman untuk Berani Melapor
“Dari persepsi kami sebenarnya, obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan pembatasan satu jenis makanan,” tegas Erwin.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengikuti pola diet yang beredar. Strategi penurunan berat badan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan, bila diperlukan, dibahas bersama tenaga kesehatan.
Sebab, semakin kompleks penyebab obesitas, semakin tidak tepat pula jika solusinya dipangkas menjadi sekadar “kurangi nasi.” (*)
JAKARTA – Mengurangi nasi atau melewatkan makan malam kerap dianggap sebagai jalan cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, pendekatan tersebu
Read moreJAKARTA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia masih berada pada level tinggi. Kementerian Kesehatan mencatat 15,6 juta kas
Read moreJAMBI - Gaya hidup generasi muda di Kota Jambi terus berkembang seiring tingginya mobilitas dan semakin beragamnya aktivitas sehari-hari. Pergi ke kam
Read moreJAKARTA – Cuaca panas ekstrem bukan hanya persoalan rasa tidak nyaman. Kondisi tersebut dapat ikut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terma
Read moreJAKARTA – Harga pembukaan yang terlihat murah kerap menjadi daya tarik utama dalam lelang mobil bekas. Namun, calon pembeli perlu berhati-hati a
Read moreJAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital j
Read more