Jangan Jadikan Media Sosial Tempat Meluapkan Marah, Psikolog Ungkap Dampak Negatifnya
JAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital j
Read more
JAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital justru dapat membuat emosi negatif semakin kuat dan membuka persoalan baru.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia sekaligus Direktur Personal Growth, lembaga layanan psikologi, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengatakan media sosial bukan ruang yang tepat untuk melampiaskan amarah.
"Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya," kata Ratih saat dihubungi ANTARA, Sabtu (8/8).
BACA JUGA:Psikolog Ingatkan Warganet Jangan Unggah Saat Marah, Terapkan Prinsip 'Pause Before Posting'
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan dugaan perundungan terhadap dirinya oleh tenaga kesehatan di media sosial.
Sebelumnya, Yurizal mengeluhkan lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap. Ia kemudian meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Ratih menjelaskan, mengungkapkan emosi atau melakukan katarsis memang dapat menghadirkan rasa lega. Namun, perasaan tersebut belum tentu bertahan lama.
Persoalan justru dapat berkembang ketika seseorang membuat unggahan saat berada dalam kondisi emosional. Konflik, penyesalan, hingga kerusakan reputasi profesional menjadi sejumlah risiko yang dapat muncul setelah emosi mereda.
"Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti pasien," ujarnya.
Menurut Ratih, karakter media sosial turut membuat penggunanya lebih mudah kehilangan kendali dibandingkan ketika berhadapan langsung dengan orang lain.
Dalam psikologi, kondisi ketika seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri saat berada di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect.
Jarak antara pengguna, kemungkinan anonimitas, serta tidak terlihatnya konsekuensi secara langsung dapat membuat seseorang lebih bebas melontarkan perkataan atau melakukan tindakan emosional di dunia maya.
Karena itu, Ratih mendorong masyarakat mencari cara yang lebih sehat untuk mengelola kemarahan. Berbicara dengan orang yang dipercaya dan melakukan refleksi dapat menjadi pilihan sebelum seseorang mengambil tindakan ketika emosinya sedang tinggi.
"Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, carilah bantuan profesional," katanya.
BACA JUGA:Tertipu Janji Pekerjaan di Medsos, 48 Orang Telantar Dipulangkan BPTD Jambi ke Daerah Asal
Ratih menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Kemarahan yang tidak terkendali, terutama ketika dituangkan secara terbuka, tidak hanya dapat berdampak kepada pihak yang menjadi sasaran.
Jejak digital dari sebuah unggahan juga dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan emosi yang melatarbelakanginya. Karena itu, keputusan untuk mengunggah sesuatu ketika sedang marah perlu dipertimbangkan matang-matang agar persoalan sesaat tidak berubah menjadi konsekuensi yang lebih panjang. (*)
JAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital j
Read moreJAKARTA — Ledakan emosi di media sosial bisa berujung pada persoalan yang lebih besar. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibra
Read moreJAKARTA– Banyak anak korban kekerasan memilih diam bukan karena tidak ingin ditolong, melainkan karena merasa tidak memiliki tempat yang aman un
Read moreJAKARTA-Gangguan saluran cerna masih menjadi persoalan kesehatan yang kerap dialami anak-anak di Indonesia. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi s
Read moreJAKARTA-Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Di tengah tingginya angka g
Read moreJAKARTA– Gempuran teknologi digital tidak boleh membuat permainan tradisional hilang dari kehidupan anak-anak Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadl
Read more