Seorang anak di Desa Sarang Burung Kecamatan Jaluko tengah mengisi air dari sumur bor pertanian di wilayah tersebut ke dalam jeriken
JAMBI – Kemarau yang berlangsung hampir dua bulan membuat sumber air warga Desa Sarang Burung, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, mulai mengering. Di tengah kondisi tersebut, sumur bor pertanian menjadi tumpuan ratusan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Air yang semula disiapkan untuk mengairi lahan pertanian kini beralih fungsi. Warga menggunakannya untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga air minum.
“Semenjak kemarau kami pakai air ini untuk kebutuhan rumah, untuk masak juga untuk air minum. Air bagus, jernih,” ungkap warga Desa Sarang Burung, Alfiani, di Muaro Jambi, Minggu.
BACA JUGA:Kemarau Mulai Cekik Warga Tanjabtim, Sumur Mengering dan Karhutla Mengintai
Menurut Alfiani, sumur bor tersebut pada awalnya dibangun untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian masyarakat. Namun, kondisi berubah ketika sumur-sumur milik warga tidak lagi mampu menyediakan air akibat musim kemarau.
Warga kemudian memanfaatkan sumber air dari sumur bor pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sumur ini membantu, tidak ada masalah lagi saat kemarau, jadi sudah aman,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana keberadaan sumber air alternatif menjadi sangat penting bagi masyarakat ketika sumber air rumah tangga mengalami kekeringan.
Selain sumur bor pertanian, warga Sarang Burung juga mendapat dukungan dari program TNI-AD Manunggal Air. Sumur bor bantuan tersebut dibangun pada awal tahun lalu dan kini menjadi salah satu sumber utama air bersih masyarakat.
Warga lainnya, Maskinah, mengatakan keberadaan sumur tersebut memberikan perubahan besar bagi kehidupan masyarakat desa.
Menurut dia, sekitar 1.962 jiwa warga Sarang Burung kini lebih mudah mendapatkan air bersih. Sebelum sumur beroperasi, masyarakat masih mengandalkan Sungai Batanghari untuk memenuhi kebutuhan air.
“Sejak ada sumur itu, kami tidak pakai air Sungai Batanghari lagi. Hidupnya lancar walau digilir, hampir semua masyarakat tersambung,” katanya.
Sistem distribusi air dilakukan secara bergiliran agar kebutuhan warga tetap dapat terpenuhi.
Bagi masyarakat, keberadaan sumur bor bukan sekadar fasilitas tambahan. Sumber air tersebut menjadi penyangga kehidupan ketika musim kemarau membuat sumber air lain semakin terbatas.
Program penyediaan air bersih tersebut merupakan bagian dari TNI AD Manunggal Air. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebelumnya meresmikan 47 titik sumber air bersih di Provinsi Jambi.
Program itu ditujukan untuk membantu masyarakat, khususnya wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih.
Salah satu titik pembangunan berada di RT 03 Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko. Lokasi tersebut dipilih karena termasuk wilayah yang rawan mengalami persoalan air bersih.
Maruli mengatakan program penyediaan air bersih masih akan dilanjutkan dengan melibatkan pemerintah daerah.
“Program ini saya pikir masih terus dilanjutkan setelah kita berkoordinasi dengan para gubernur dan para bupati, masih banyak daerah yang memerlukan (air bersih). Kalau kita keroyok ramai-ramai akan lebih mempercepat penyelesaian kekurangan air bersih masyarakat,” kata Maruli.
BACA JUGA:Kemarau Panjang Ganggu Pasokan Air Bersih di Singkut, Ribuan Pelanggan PDAM Terdampak
Gubernur Jambi Al Haris menilai program TNI-AD Manunggal Air menjadi bukti kehadiran institusi pertahanan dalam membantu menyelesaikan persoalan dasar masyarakat.
“Program ini sangat membantu masyarakat, apalagi air merupakan kebutuhan yang sangat mendasar,” kata Al Haris.
Di Sarang Burung, manfaat program tersebut terasa semakin penting ketika kemarau datang. Saat sumber air warga menyusut, sumur bor menjadi penopang agar aktivitas masyarakat tetap berjalan dan kebutuhan dasar air bersih tidak terhenti. (*)