Terlihat petani keramba ikan di tepi Sungai Batanghari sedang mengangkat ikan-ikan mati dari jaring keramba

Petani Keramba Menjerit, Ikan Mati Diduga Akibat Limbah Tambang Emas Ilegal di Hulu Batanghari

Posted on 2026-08-10 05:28:09 dibaca 77 kali

JAMBI – Puluhan ton ikan budidaya milik petani keramba di lima desa di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, mati. Petani menduga kematian massal tersebut berkaitan dengan pencemaran air Sungai Batanghari yang menjadi sumber utama budi daya ikan mereka.

Kondisi itu disebut semakin parah dalam tiga bulan terakhir. Menurunnya debit Sungai Batanghari akibat musim kemarau diduga memperburuk kualitas air dan meningkatkan risiko kematian ikan.

“Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati,” kata petani keramba, Musa Yusuf, di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, Minggu.

BACA JUGA:Puluhan Ton Ikan Keramba di Jaluko Mati, Sungai Batanghari Diduga Tercemar

Menurut Musa, kematian ikan tidak hanya berkaitan dengan menyusutnya permukaan air sungai. Ia menduga aktivitas pertambangan di wilayah hulu turut membawa limbah beracun, termasuk merkuri, ke aliran Sungai Batanghari.

Dampak tersebut dirasakan langsung petani yang menggantungkan penghasilan dari budi daya ikan di sepanjang aliran sungai.

Musa meminta pemerintah segera turun tangan. Menurut dia, petani keramba berada dalam posisi rentan karena tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan air sungai sebagai media budi daya.

“Pemerintah harus memikirkan persoalan ini agar petani ikan yang ada di sepanjang aliran sungai tidak ikut merasakan dampak aktivitas pertambangan emas ilegal,” ujarnya.

Ribuan Keramba Terancam

Kecamatan Jaluko selama ini menjadi salah satu sentra produksi ikan air tawar di Provinsi Jambi. Keramba milik petani tersebar di sejumlah desa, antara lain Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut, dan Pematang Jering.

Petani membudidayakan berbagai jenis ikan, terutama ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus), dengan memanfaatkan aliran Sungai Batanghari.

Skala kerugian yang muncul tidak kecil. Musa memperkirakan ikan yang mati di wilayah Kecamatan Jaluko dapat mencapai puluhan ton setiap bulan.

“Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan, karena di daerah ini ada ribuan tambak. Bayangkan saja, dari delapan ribu ikan yang ditabur, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor yang hidup. Ini untuk satu petak. Kalau setiap petani punya 10 petak, tinggal kalikan saja,” katanya.

Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan ekonomi petani. Kematian ikan dalam jumlah besar juga menjadi sinyal bahwa kualitas ekosistem Sungai Batanghari menghadapi tekanan serius.

DPRD: Masalah dari Hulu hingga Hilir

Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menilai persoalan pencemaran Sungai Batanghari merupakan akumulasi kerusakan dari wilayah hulu hingga hilir.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. Aktivitas tambang ilegal, pembuangan limbah rumah tangga dan industri, hingga abrasi akibat minimnya penghijauan turut memperburuk kondisi sungai.

Ivan juga menyoroti tingkat kekeruhan air baku Sungai Batanghari. Berdasarkan laporan perusahaan air minum daerah (PDAM), pengukuran tingkat kekeruhan menggunakan satuan Nephelometric Turbidity Unit (NTU) menunjukkan angka mencapai 1.400 NTU.

Angka tersebut melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan kondisi normal yang berada pada kisaran 250–300 NTU.

Karena itu, Ivan mendesak pemerintah mengambil langkah strategis dan melibatkan berbagai sektor untuk menyelamatkan Sungai Batanghari.

Salah satu langkah yang didorong adalah memasukkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Dengan demikian, pemerintah pusat diharapkan dapat terlibat lebih besar dalam upaya pemulihan dan pelestarian sungai.

“Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan. Masalah sebenarnya ada pada kerusakan ekosistem di bagian hulu yang harus dibenahi. Jika DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi investasi besar yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Ivan.

Jumlah Spesies Ikan Terus Menyusut

Ancaman terhadap ekosistem Sungai Batanghari juga menjadi perhatian peneliti ikan Sumatra sekaligus dosen Ilmu Biologi Universitas Jambi (UNJA), Tedjo Sukmono.

Tedjo menilai aktivitas tambang emas ilegal menjadi salah satu ancaman serius terhadap keberlangsungan biota perairan di Sungai Batanghari.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data penelitian, Sungai Batanghari pada periode 1986–1994 tercatat memiliki sekitar 300 spesies ikan. Namun, jumlah tersebut terus mengalami penurunan.

Berdasarkan penelitian pada 2023, jumlah spesies ikan yang ditemukan tersisa sekitar 135 jenis.

Penurunan tersebut, kata Tedjo, menunjukkan bahwa persoalan Sungai Batanghari tidak sebatas air yang keruh atau ikan yang mati di keramba. Ada perubahan ekologis yang lebih luas dan berpotensi mengancam keberadaan berbagai spesies ikan di sungai tersebut.

BACA JUGA:DPRD Desak Penanganan Menyeluruh, Penyusutan Sungai Batanghari Dinilai Sudah Masuk Fase Kritis

Tedjo menegaskan penyelamatan Sungai Batanghari membutuhkan tindakan nyata, terutama dari pihak yang memiliki kewenangan dan kekuatan untuk mengendalikan aktivitas yang berdampak terhadap ekosistem sungai.

“Perlu gerakan sosial untuk penyelamatan Sungai Batanghari, penyusunan rencana pengelolaan secara bersama dan terintegrasi,” tegasnya.

Kematian puluhan ton ikan di keramba dengan demikian menjadi peringatan keras. Di balik kerugian petani, terdapat persoalan yang jauh lebih besar: tekanan terhadap ekosistem Sungai Batanghari yang berlangsung dari hulu hingga hilir dan berpotensi mengancam sumber kehidupan masyarakat dalam jangka panjang. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx