Ilustrasi - Dokter melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pasien bergejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
JAKARTA – Cuaca panas ekstrem bukan hanya persoalan rasa tidak nyaman. Kondisi tersebut dapat ikut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama ketika masyarakat juga terpapar polusi udara.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan bahwa fenomena El Nino dan peningkatan suhu yang berlebihan perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Menurut Tjandra, menjaga daya tahan tubuh menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi kondisi tersebut. Pola makan bergizi, aktivitas fisik dan waktu istirahat yang cukup perlu tetap dijaga.
BACA JUGA:Jambi Siaga Karhutla, Pesawat Cessna Disiapkan untuk Patroli dan Modifikasi Cuaca
“Status kesehatan dan daya tahan tubuh yang baik akan membentengi kita terhadap berbagai kemungkinan penyakit, termasuk ISPA,” kata Tjandra saat dihubungi di Jakarta, Minggu.
Selain menjaga kondisi tubuh, kebutuhan cairan juga tidak boleh diabaikan. Cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi yang pada akhirnya turut memengaruhi kondisi saluran pernapasan.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan asupan air minum tetap mencukupi, terutama ketika harus beraktivitas di tengah suhu tinggi.
Risiko kesehatan juga semakin perlu diperhatikan ketika cuaca ekstrem terjadi bersamaan dengan tingginya polusi udara. Dalam kondisi tersebut, Tjandra menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak diperlukan.
Keluhan seperti batuk, nyeri dada atau demam juga tidak seharusnya diabaikan. Jika gejala masih ringan, masyarakat dapat melakukan penanganan awal dan beristirahat. Namun, apabila keluhan tidak kunjung membaik, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.
“Kalau ringan, dapat ditangani sendiri dengan obat untuk menghilangkan gejala, kalau perlu istirahat. Kalau keluhan tidak membaik, maka segera berkonsultasi pada petugas kesehatan,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran untuk tidak memperburuk kualitas udara. Tjandra mengingatkan agar warga menghindari aktivitas yang menghasilkan polutan, seperti merokok, menggunakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap hitam, maupun membakar sampah.
Menurutnya, ancaman ISPA tidak cukup hanya dihadapi dari sisi individu. Pemerintah juga perlu bergerak lebih awal, terutama dalam mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus di Jakarta.
Kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Fasilitas kesehatan di berbagai tingkatan perlu dipastikan mampu diakses masyarakat dan memiliki sarana diagnostik serta ketersediaan obat yang memadai.
Antisipasi juga harus mencakup rumah sakit. Jika terjadi peningkatan kasus dengan kondisi yang membutuhkan perawatan intensif atau rawat inap, kapasitas rumah sakit harus sudah disiapkan.
BACA JUGA:BMKG Ingatkan Ancaman Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
“Kalau sampai ada kasus yang memerlukan rawat inap, maka juga tentu perlu disiapkan rumah sakit untuk penanganannya,” kata Tjandra.
Dengan kondisi cuaca panas dan kualitas udara yang dapat berubah, kewaspadaan menjadi penting. Masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh sekaligus mengurangi paparan polusi, sementara pemerintah dituntut memastikan sistem pelayanan kesehatan tidak baru bergerak setelah kasus mulai meningkat. (*)