Warsi Temukan 30 Perkebunan Sawit dan 14 PBPH Bersinggungan dengan Area Karhutla Jambi
JAMBI – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus menjadi perhatian. Hingga pertengahan September 2026, hasil pemantauan
Read more
JAMBI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menguji kesiapan tim pemadam di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Jambi. Sebanyak 142 personel gabungan dikerahkan, diperkuat satu unit helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik yang sulit ditangani dari darat.
Operasi pemadaman hingga Jumat (17/9) melibatkan berbagai unsur dan dukungan peralatan dalam jumlah besar. PT Wirakarya Sakti (PT WKS), unit usaha APP Group, ikut mengerahkan personel, alat berat, pompa pemadam, kendaraan operasional hingga sarana pemantauan udara.
Kepala Humas PT WKS, Taufik Qurochman, mengatakan penanganan karhutla di kawasan tersebut membutuhkan operasi berkelanjutan karena karakteristik lahan gambut tidak mudah ditangani hanya dengan pemadaman api di permukaan.
BACA JUGA:Warsi Temukan 30 Perkebunan Sawit dan 14 PBPH Bersinggungan dengan Area Karhutla Jambi
“Hingga Jumat (17/9), penanganan karhutla di Londerang diperkuat berbagai sarana pemadaman, seperti PT Wirakarya Sakti (PT WKS), unit usaha APP Group, termasuk helikopter water bombing, alat berat, pompa pemadam, drone, serta kendaraan operasional,” kata Taufik di Jambi, Jumat.
Sempat Padam, Api Kembali Muncul
Karhutla di HLG Londerang pertama kali terpantau pada 27 Agustus 2026. Tim gabungan kemudian melakukan pemadaman selama enam hari hingga kebakaran saat itu dinyatakan tuntas pada 2 September.
Namun, persoalan belum benar-benar berakhir.
Memasuki pertengahan September, titik kebakaran kembali muncul di bagian lain kawasan HLG Londerang. Tim pun kembali bergerak melakukan pemadaman sekaligus pembasahan untuk mencegah api kembali menjalar.
Dalam operasi tersebut, personel berasal dari sejumlah unsur, mulai dari Regu Pemadam Kebakaran PT WKS, Manggala Agni, BPBD, TNI, tim Water Management, operator, pengemudi hingga unsur pendukung lainnya.
Menurut Taufik, kondisi lahan gambut membuat penanganan membutuhkan koordinasi yang lebih intensif, khususnya dalam memastikan ketersediaan air di sekitar lokasi kebakaran.
“Penanganan karhutla di HLG Londerang merupakan kerja bersama. Berbagai unsur berkolaborasi dalam pemadaman, pembasahan, pengelolaan sumber air hingga pemantauan kondisi areal,” ujarnya.
12 Alat Berat hingga 24 Pompa Dikerahkan
Skala operasi terlihat dari banyaknya peralatan yang diturunkan ke lapangan.
PT WKS mengerahkan 12 unit alat berat yang digunakan antara lain untuk membantu pembuatan dan penguatan sekat serta pembersihan kanal. Tim Water Management juga bertugas mengelola sumber air agar kebutuhan pemadaman dan pembasahan lahan dapat terus dipenuhi.
Untuk operasi darat, tersedia 24 unit pompa pemadam, sembilan kendaraan roda empat, 15 sepeda motor, sekitar 120 set Sambunesia untuk mendukung proses pendinginan gambut, serta ratusan rol selang pemadam.
Pemantauan dari udara juga dilakukan menggunakan dua unit drone.
Sementara untuk memperkuat operasi dari udara, satu unit helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air ke lokasi yang membutuhkan penanganan.
Operasi udara dan darat tidak dilakukan secara terpisah. Tim menyesuaikan strategi berdasarkan perkembangan api, arah angin, karakteristik lahan, akses menuju lokasi serta kondisi sumber air.
“Karakteristik lahan gambut membutuhkan penanganan yang intensif dan terkoordinasi. Karena itu penguatan operasi darat, pengelolaan sumber air, penggunaan alat berat, pemantauan udara hingga water bombing dilakukan secara terpadu dan terus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” kata Taufik.
Keselamatan Personel Jadi Perhatian
Selain mengejar pengendalian api, keselamatan petugas menjadi bagian penting dalam operasi tersebut.
BACA JUGA:Api Kembali Muncul di TN Berbak, Pemadaman Terkendala Air: Helikopter Waterbombing Dikerahkan
Koordinasi antarregu terus dilakukan untuk mengatur pembagian tugas sekaligus memastikan seluruh peralatan digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Taufik mengatakan seluruh unsur yang terlibat memiliki tujuan yang sama, yakni mengendalikan kebakaran dengan seefektif mungkin tanpa mengabaikan keselamatan personel.
“Yang jadi prioritas bersama bagaimana kebakaran dapat ditangani seefektif mungkin sekaligus menjaga keselamatan seluruh personel. Kolaborasi seluruh unsur menjadi penting agar setiap sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara optimal sesuai perkembangan kondisi di lapangan,” pungkasnya. (*)
JAMBI – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus menjadi perhatian. Hingga pertengahan September 2026, hasil pemantauan
Read moreJAMBI – Upaya menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kawasan Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang kembali menghadapi ke
Read moreMUARASABAK – Jarak permukiman warga dengan jaringan listrik PLN hanya sekitar 2,5 kilometer. Namun bagi sekitar 40 kepala keluarga (KK) di Desa
Read moreMUARO JAMBI — Keberadaan aktivitas penumpukan pasir atau stockpile milik CV Lintas Makmur Sejahtera di Desa Penyengat Olak, Kecamatan Jambi Luar
Read moreMERANGIN - Seorang pria berinisial S (41) menjadi korban penusukan di kawasan Taman Bujang Upik, Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, Kab
Read moreMUARO JAMBI — Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menerapkan sejumlah lan
Read more