Proses penjemuran buah pinang kocek yang dilakukan salah satu petani di Kabupaten Tanjabtim
MUARASABAK – Cuaca panas yang melanda Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) memanfaatkan petani pinang untuk meningkatkan efisiensi pemrosesan hasil panen. Terik matahari membuat proses pengeringan lebih singkat sehingga pinang bisa lebih cepat dipasarkan.
Di Kecamatan Kuala Jambi, petani kini hanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk mengeringkan buah pinang. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri dibandingkan saat cuaca tidak menentu yang dapat memperpanjang masa penjemuran.
Linda Safitri, petani pinang setempat, mengungkapkan bahwa sinar matahari yang cukup membantu mempercepat proses pengeringan. Setelah mencapai tingkat kekeringan yang sesuai, pinang dapat langsung dijual kepada pengepul.
BACA JUGA: Harga Pinang di Tanjabtim Anjlok, Petani Terjepit Pembayaran Toke Tersendat
“Kalau musim panas begini, buah pinang yang kami jemur cepat kering. Sekitar dua atau tiga hari sudah kering dan siap dijual,” kata Linda.
Selain mempercepat proses pengolahan, tingkat kekeringan juga menentukan harga jual pinang di tingkat petani. Saat ini, pinang kering kelotok dibanderol sekitar Rp18 ribu per kilogram.
Sementara itu, pinang dengan kualitas di bawahnya dihargai sekitar Rp11 ribu per kilogram. Adapun pinang dengan kualitas terendah dijual pada kisaran Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogram.
Perbedaan harga tersebut mendorong petani untuk menghasilkan pinang dengan kualitas pengeringan yang lebih baik. Cuaca panas pun menjadi faktor pendukung bagi petani untuk memperoleh hasil penjualan yang lebih optimal.
Petani lainnya, Fatimang, mengatakan bahwa kondisi cuaca saat ini memudahkan petani menghasilkan pinang kering kelotok. Dengan proses penjemuran yang relatif singkat, hasil panen tidak perlu terlalu lama disimpan sebelum dijual.
“Sekarang jarang kami menjual pinang yang belum kering kelotok. Soalnya, cuaca panas membuat proses penjemuran lebih mudah dan cepat,” ujarnya.
Bagi petani, waktu pengeringan yang lebih efisien juga membantu memperlancar perputaran hasil perkebunan. Pinang yang telah memenuhi standar kekeringan dapat segera dipasarkan tanpa harus menunggu terlalu lama.
Meski memberikan kemudahan dalam pengeringan, musim kemarau tetap menyimpan tantangan bagi keberlangsungan tanaman pinang. Ketersediaan udara menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kondisi tanaman di perkebunan.
Di Kecamatan Kuala Jambi, kebutuhan udara masih terbantu oleh aliran parit dan sungai yang relatif lancar, terutama saat air pasang. Kondisi tersebut membantu petani menghadapi cuaca panas selama persediaan udara masih mencukupi.
Namun, petani berharap kemarau tidak berlangsung terlalu lama. Selain berpotensi menyebabkan kekeringan, cuaca panas yang berkepanjangan juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BACA JUGA: Kopi Kerinci Didorong Masuk Pasar Global, Ekspor ke Kanada dan Malaysia Capai 14 Ton
Risiko tersebut menjadi perhatian masyarakat, terutama karena kebakaran dapat mengganggu kualitas udara hingga mengancam organisasi yang sebagian besar rumahnya masih berbahan kayu.
Petani berharap cuaca tetap mendukung aktivitas perkebunan, namun hujan segera turun untuk menjaga ketersediaan udara dan menekan risiko kebakaran.
Dengan kondisi cuaca yang seimbang, petani diharapkan tetap dapat menikmati kemudahan pengeringan pinang tanpa harus menghadapi ancaman kekeringan yang berlebihan. (*)