Konfreensi pers terkait dengan cuaca di Jambi

BMKG Peringatkan Jambi Bersiap Hadapi Musim Hujan, Banjir dan Longsor Mengintai

Posted on 2026-10-07 13:33:00 dibaca 100 kali

JAMBI – Musim hujan 2026–2027 segera memasuki wilayah Provinsi Jambi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi meminta masyarakat tidak lengah meski sebagian wilayah masih dilanda musim kemarau.

Perubahan musim diperkirakan mulai terjadi secara bertahap pada akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut sekaligus menandai masuknya periode pancaroba yang ditandai perubahan cuaca secara cepat dan potensi meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

Peringatan tersebut disampaikan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi dalam press release kesiapsiagaan menghadapi musim hujan 2026–2027 di Kantor Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi.

BACA JUGA:Cuaca Jambi Hari Ini Berpotensi Hujan, BMKG Ingatkan Awan Cumulonimbus

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Tri Agus Pramono, mengatakan masyarakat perlu melakukan persiapan sejak sekarang. Sebab, kedatangan musim hujan di Jambi tidak berlangsung serentak, melainkan bergerak secara bertahap dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

“Di minggu akhir Oktober kita sudah memasuki musim hujan, tetapi belum semuanya, masih beberapa wilayah saja,” ujar Tri Agus.

Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Muaro Jambi, Kota Jambi, Batanghari dan Tebo menjadi daerah yang lebih dahulu memasuki musim hujan. Kondisi tersebut diperkirakan mulai terjadi pada dasarian ketiga Oktober atau sekitar 21–30 Oktober 2026.

Memasuki dasarian pertama November, giliran bagian utara Tanjung Jabung Barat, utara Bungo, barat Merangin dan barat Sarolangun yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan.

Selanjutnya pada dasarian kedua November, hujan mulai memasuki wilayah Kerinci, Kota Sungai Penuh dan sebagian kecil Tanjung Jabung Timur.

Awal Musim Hujan Bergeser

BMKG juga mencatat adanya pergeseran awal musim hujan jika dibandingkan pola normal periode 1991–2020.

Sejumlah daerah bahkan diprakirakan mengalami keterlambatan hingga tiga dasarian. Wilayah tersebut mencakup bagian barat Sarolangun, barat Merangin, utara Bungo, utara Tanjung Jabung Barat dan sebagian kecil Tanjung Jabung Timur.

Tri Agus menjelaskan, daerah yang secara normal sudah memasuki musim hujan pada akhir September tahun ini baru diprakirakan mengalaminya pada akhir Oktober.

“Yang seharusnya awal musim hujannya di akhir September, tahun ini menjadi akhir Oktober. Itulah yang disebut mundur tiga dasarian,” jelasnya.

Sementara Batanghari, Muaro Jambi, Tebo dan sebagian besar Tanjung Jabung Timur diprakirakan mengalami kemunduran sekitar dua dasarian. Kerinci dan Kota Sungai Penuh diperkirakan mundur sekitar satu dasarian.

Untuk puncak musim hujan, sebagian besar wilayah Jambi diprediksi mencapai puncaknya pada Desember 2026.

Namun pola tersebut tidak berlaku merata. Sebagian Sarolangun dan sebagian besar Merangin diperkirakan mengalami puncak hujan pada Januari 2027. Sedangkan Kerinci dan Kota Sungai Penuh baru mencapai puncak musim hujan pada April 2027.

Khusus Kerinci dan Sungai Penuh, kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik hujan bertipe ekuatorial. Pola ini memungkinkan wilayah tersebut mengalami dua kali puncak musim hujan dalam setahun.

Pancaroba Rawan Cuaca Ekstrem

Periode peralihan musim yang diperkirakan berlangsung mulai akhir Oktober hingga awal November juga menjadi perhatian BMKG.

Pada fase ini, kondisi cuaca dapat berubah dalam waktu singkat. Cuaca panas selama beberapa hari dapat tiba-tiba berubah menjadi hujan disertai angin kencang dan petir.

“Memasuki musim pancaroba itu cuaca tidak menentu. Kadang tiga hari berturut-turut panas, tiga hari berturut-turut hujan, sehingga ada potensi kejadian cuaca ekstrem,” katanya.

Potensi angin kencang perlu diwaspadai terutama masyarakat yang berada di Kerinci, Tanjung Jabung Barat dan Kota Sungai Penuh.

BMKG meminta warga memeriksa kondisi atap dan bagian bangunan yang rawan roboh. Pohon besar, baliho dan reklame juga perlu diwaspadai karena dapat tumbang saat diterpa angin kencang.

Ancaman petir juga dapat muncul hampir di seluruh wilayah Jambi. Ketika terjadi petir, masyarakat diminta tidak berteduh di bawah pohon, menghindari ruang terbuka dan tidak menggunakan payung dengan bagian berbahan logam.

Banjir Mengintai Sejumlah Daerah

Memasuki puncak musim hujan, ancaman bencana hidrometeorologi ikut meningkat. BMKG memetakan sejumlah wilayah yang memiliki potensi banjir, di antaranya Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi, Batanghari, Tebo, Bungo dan Kerinci.

Kota Jambi juga tidak lepas dari ancaman genangan. Beberapa kawasan yang perlu mendapat perhatian antara lain Pal Lima, JBC, Kota Baru, Pasir Putih, Srikandi dan Simpang Rimbo, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama.

“Di Kota Jambi ini kadang dua sampai tiga jam hujan sudah banjir,” ungkapnya.

Ancaman berbeda dihadapi wilayah perbukitan. Kerinci, Merangin, Sarolangun dan Bungo memiliki potensi tanah longsor, khususnya pada kawasan dengan topografi tinggi.

Jalur Merangin–Kerinci dan Kerinci–Sumatera Barat juga masuk wilayah yang perlu diwaspadai pengguna jalan karena berpotensi mengalami longsor.

Selain longsor, banjir bandang berpotensi terjadi di Kerinci, Merangin, Sarolangun dan Bungo. Sementara masyarakat di wilayah pesisir Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat diminta mewaspadai potensi banjir rob.

BMKG Minta Warga Tak Menunggu Bencana

Menghadapi perubahan musim tersebut, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah melakukan mitigasi sejak sebelum hujan intensif terjadi.

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi musim, menggunakan varietas yang sesuai serta memastikan saluran pembuangan air di lahan tidak tersumbat.

Sementara pada kawasan permukiman, sungai, kanal, drainase dan saluran irigasi perlu dibersihkan dari sampah maupun sedimentasi. Pemerintah dan masyarakat juga diminta memantau perkembangan tinggi muka air sungai dan waduk.

Optimalisasi embung, kolam retensi dan kawasan resapan air juga dinilai penting untuk mengurangi risiko genangan ketika hujan deras terjadi.

Dalam menghadapi ancaman bencana, masyarakat diminta aktif mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

“Jika ada potensi terpantau awan konvektif, biasanya kami dari BMKG langsung merilis peringatan dini,” katanya.

Warga yang tinggal di daerah rawan juga disarankan mengetahui lokasi dan jalur evakuasi serta menyiapkan tas siaga bencana. Tas tersebut dapat berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan dan kebutuhan dasar lainnya.

BACA JUGA:Jambi Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini, BMKG Ingatkan Warga Waspadai Perubahan Cuaca

BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai dan drainase, memperbanyak kawasan resapan serta menjaga hutan dan sempadan sungai.

Antisipasi juga perlu dilakukan terhadap potensi gangguan listrik. Instalasi listrik di rumah maupun fasilitas umum perlu diperiksa, sementara peralatan listrik harus dijauhkan dari lokasi yang berpotensi tergenang.

BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi musim hujan. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan karena kesiapsiagaan sejak dini menjadi salah satu kunci mengurangi dampak cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx