Kepala Balai TNBS Yunaidi.

Karhutla TNBS Makin Dekat dengan Habitat Harimau Sumatera, Jarak Api Tinggal 2–3 Kilometer

Posted on 2026-10-01 12:52:53 dibaca 147 kali

JAMBI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mulai mendekati wilayah hutan primer yang menjadi habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Kepala Balai TNBS Yunaidi mengatakan, berdasarkan pemantauan petugas, titik kebakaran memang belum masuk ke kawasan hutan primer tempat harimau dan satwa lainnya berada. Namun, posisi api yang semakin dekat menjadi perhatian karena terdapat potensi kebakaran meluas apabila tidak segera dikendalikan.

“Jaraknya diperkirakan sekitar dua sampai tiga kilometer dari habitat harimau,” ujar Yunaidi di Jambi.

BACA JUGA:Karhutla Terjadi Dekat di Jalur Gajah Tebo, BKSDA Pastikan Satwa Liar Tetap Aman

Saat ini, area yang terbakar masih didominasi vegetasi seperti semak belukar, alang-alang dan tumbuhan paku-pakuan. Sementara kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau dan satwa mangsanya dilaporkan belum tersentuh api.

Meski demikian, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan api. Asap yang terbawa dari lokasi kebakaran juga berpotensi memengaruhi kondisi satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak.

“Satwa juga membutuhkan udara. Asap tentu bisa memengaruhi kondisi mereka,” kata Yunaidi.

Di tengah kondisi tersebut, keberadaan harimau di kawasan TNBS masih terpantau melalui informasi dari masyarakat. Yunaidi menyebut pihaknya menerima laporan mengenai suara harimau yang terdengar dari kawasan Sembilang.

Informasi tersebut diperoleh dari operator kawasan dan pemancing yang beraktivitas pada sore hari. Namun, hingga kini pihak Balai TNBS belum menerima laporan mengenai harimau yang secara langsung terdampak oleh kebakaran.

Berdasarkan data pemantauan pada 2022, kawasan Berbak tercatat memiliki sekitar 11 ekor harimau. Data tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai keberadaan populasi satwa dilindungi di kawasan konservasi tersebut.
Pemadaman Terkendala Akses dan Air

Upaya mencegah api mencapai hutan primer menghadapi tantangan di lapangan. Petugas harus menangani titik api yang berada jauh di dalam kawasan dengan akses darat yang terbatas.

Ketersediaan air juga menjadi persoalan karena sumber air tidak mudah ditemukan di dekat lokasi kebakaran.

“Kesulitan air. Kemudian titik apinya juga sulit dijangkau karena lokasinya jauh,” ungkap Yunaidi.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Balai TNBS berupaya membangun embung menggunakan bantuan alat berat. Selain itu, air dari sungai juga diupayakan dialirkan menuju kawasan yang terbakar untuk mendukung kegiatan pemadaman dan pembasahan.

BACA JUGA:Ratusan Burung Ilegal Diamankan BKSDA Jambi, Sebanyak 198 Ekor Dikembalikan ke Habitatnya

Kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung sejak 9 Agustus 2026. Luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 1.000 hektare, meski angka tersebut masih bersifat sementara dan belum ditetapkan melalui pengukuran resmi.

Pemadaman kini terus dilakukan bersama unsur terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan TNI.

Prioritas utama petugas adalah mencegah api terus bergerak menuju kawasan hutan primer. Dengan demikian, habitat harimau Sumatera dan satwa dilindungi lainnya di kawasan TNBS diharapkan tetap terlindungi dari dampak langsung kebakaran. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx