Kopi warga Desa Sungai Bermas, Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci
KERINCI– Biji kopi dari perkebunan lokal tidak lagi sekadar dijual sebagai hasil pertanian mentah. Di tangan pelaku UMKM Desa Sungai Bermas, Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, komoditas tersebut diolah menjadi kopi bubuk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Adalah Debi, pelaku usaha yang mencoba menangkap peluang dari tingginya minat masyarakat terhadap kopi. Melalui produk Kopi Sungai Bermas, ia mengolah biji kopi lokal menjadi bubuk siap seduh yang dipasarkan kepada masyarakat.
Produksi yang dilakukan memang masih dalam skala UMKM. Namun, dalam sepekan Debi mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 kilogram kopi bubuk.
BACA JUGA:Kopi Kerinci Didorong Masuk Pasar Global, Ekspor ke Kanada dan Malaysia Capai 14 Ton
“Dalam satu minggu kito memproduksi sekitar 20 sampai 30 kilogram kopi bubuk,” ujar Debi.
Pasar Siulak menjadi salah satu lokasi utama pemasaran produk tersebut. Dari sana, Kopi Sungai Bermas terus diperkenalkan kepada konsumen di sejumlah wilayah Kabupaten Kerinci.
Untuk menjaga produk tetap terjangkau, kopi tersebut tersedia dalam beberapa pilihan kemasan. Harganya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kemasan, sehingga dapat menyasar konsumen dari berbagai kalangan.
Bagi Debi, tantangan usaha bukan hanya soal meningkatkan jumlah produksi. Menjaga cita rasa sekaligus memperbaiki tampilan produk menjadi bagian penting agar kopi lokal mampu bertahan di tengah persaingan pasar.
Upaya mengembangkan kemasan dan pengolahan juga menjadi strategi untuk memperluas jangkauan pemasaran. Sebab, potensi kopi Kerinci tidak berhenti pada penjualan biji kopi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
BACA JUGA:Beruang Masuk Permukiman, Warga Kerinci Dihantui Ancaman Tiap Malam
Kopi Sungai Bermas menjadi salah satu gambaran bagaimana hasil perkebunan lokal dapat diolah langsung oleh masyarakat menjadi produk UMKM. Jika dikelola secara konsisten, usaha semacam ini tidak hanya membuka peluang pendapatan bagi pelaku usaha, tetapi juga ikut memperkuat posisi produk lokal Kerinci.
Di tengah persaingan produk kopi yang semakin beragam, keberanian UMKM mengolah komoditas dari daerah sendiri menjadi salah satu modal penting untuk membawa nama kopi Kerinci ke pasar yang lebih luas. (*)